Logo SantriDigital

Khutbah Idul Adha

Khutbah Jumat
A
Abdul Halim
26 April 2026 4 menit baca 1 views

ٱلْحَمْدُ لِلَّٰهِ رَبِّ ٱلْعَالَمِينَ، وَٱلصَّلَاةُ وَٱلسَّلَامُ عَلَىٰ أَشْرَفِ ٱلْمُرْسَلِينَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْم...

ٱلْحَمْدُ لِلَّٰهِ رَبِّ ٱلْعَالَمِينَ، وَٱلصَّلَاةُ وَٱلسَّلَامُ عَلَىٰ أَشْرَفِ ٱلْمُرْسَلِينَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah... Hari ini, di hari yang penuh berkah ini, Idul Adha memanggil kita. Bukan sekadar panggilan pesta pora atau hura-hura. Ia adalah panggilan dari lubuk hati yang paling dalam, panggilan untuk merenungi hakikat pengorbanan. Pengorbanan yang dimulai dari para Nabi 'alaihissalam, pengorbanan yang menyentuh hati insan mulia, Nabi Ibrahim Al-Masih Al-Shaddiq, yang diperintahkan Allah untuk menyembelih buah hatinya, Ismail Alaihis salam. Sungguh, sebuah ujian yang membuat gunung pun tergoncang, sementara hati seorang ayah dan anak itu teguh beriman. Pernahkah terbayang oleh kita, rasa duka seorang ayah yang harus mengorbankan permata hatinya? Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam Al-Qur'anul Karim: ‏فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعْيَ قَالَ يَـٰبُنَىَّ إِنِّىٓ أَرَىٰ فِى ٱلْمَنَامِ أَنِّىٓ أَذْبَحُكَ فَٱنظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَـٰٓأَبَتِ ٱفْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ وَٱتَّقِ ٱللَّهَ ۚ سَتَجِدُنِىٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّـٰبِرِينَ "Maka ketika anak itu sampai pada usia baligh, Ismail berkata: 'Wahai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah, bagaimana pendapatmu?' Ismail menjawab: 'Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan Allah kepadamu; kelak kamu akan mendapati aku termasuk orang yang sabar.'" (QS. Ash-Shaffat: 102). Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah... Namun, ketika mata hati kita tertuju pada pengorbanan di hari Idul Adha ini, mari kita tengok ke dalam diri. Kapan terakhir kali kita benar-benar berkorban untuk Allah? Bukan sekadar materi, bukan sekadar waktu. Tapi pengorbanan jiwa, pengorbanan hawa nafsu, pengorbanan ego yang seringkali lebih bengis dari serigala lapar. Seringkali kita merayakan Idul Adha dengan suka cita, dengan membeli hewan kurban, lalu kita lupa pada hakikat pengorbanan yang sebenarnya. Kita lupa bahwa ada ibadah kurban yang lebih besar menanti kita, yaitu mengorbankan kesombongan diri, mengorbankan kemaksiatan yang terus kita pelihara, mengorbankan sifat dengki dan iri hati yang meracuni jiwa. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, yang artinya: "Tidaklah anak Adam melakukan suatu amalan pada hari Nahr (Idul Adha) yang lebih dicintai Allah daripada menumpahkan darah (menyembelih kurban). Sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat dengan tanduk-tanduknya, bulu-bulunya, dan kukunya. Dan sesungguhnya darah itu akan sampai kepada Allah di suatu tempat sebelum jatuh ke tanah. Maka sucikanlah dirimu." (HR. At-Tirmidzi) Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah... Renungkanlah sebentar saja, duhai saudara-saudariku seiman. Dosa-dosa kita. Sebanyak apa? Seperti buih di lautan, sebanyak kerikil di pasir pantai. Betapa banyak kita melalaikan shalat, betapa banyak kita menyakiti hati orang tua, betapa banyak kita berbuat zalim pada sesama, betapa banyak mata ini melihat yang haram, betapa banyak lisan ini berucap dusta dan fitnah. Ya Allah, betapa hinanya diri ini di hadapan-Mu. Air mata ini menetes bukan karena tangisan biasa, tapi air mata penyesalan yang pedih, air mata seorang hamba yang sadar akan banyaknya kesalahan. Bukankah Allah berfirman, yang artinya: "Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya lalu ia berpaling daripadanya dan melupakan apa yang telah dikerjakan oleh kedua tangannya? Sesungguhnya Kami telah meletakkan tutupan atas hati mereka (sehingga mereka tidak memahaminya) dan kesumbatan pada telinga mereka; dan jika kamu menyeru mereka kepada petunjuk, niscaya mereka tidak akan mendapat petunjuk selama-lamanya." (QS. Al-Kahf: 57). Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah... Di tengah puing-puing kesadaran ini, mari kita tatap langit. Adakah keputusasaan di sana? Tidak! Ada harapan. Harapan dari Rabb yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. Idul Adha ini mengingatkan kita pada limpahan rahmat-Nya. Pengorbanan Nabi Ibrahim 'alaihissalam diganti dengan kedatangan Ismail 'alaihissalam, dan kemudian Allah menundukkan besi untuk Nabi Daud 'alaihissalam, serta mengusir jin atas perintah Nabi Sulaiman 'alaihissalam. Semua itu adalah buah dari ketaatan mutlak dan pengorbanan yang tulus. Jangan biarkan hati kita mengeras seperti batu. Jangan biarkan jiwa kita terbungkus selimut kelalaian. Mari kita hadirkan Idul Adha ini sebagai momen tobat yang sesungguhnya. Kurbankan sedikit dari harta kita, ya, memang itu perintah-Nya. Tapi yang lebih utama, kurbankan sedikit dari keegoan kita, kurbankan sedikit dari kesibukan kita yang menjauhkan dari Allah, kurbankan sedikit dari waktu kita untuk merenungi ayat-ayat-Nya. Seorang penyair pernah berkata, merintih dalam syairnya: "Jika bukan karena cinta, air mata ini takkan mengalir. Jika bukan karena takut, jiwa ini takkan gemetar." Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah... Kita adalah hamba Allah. Hamba yang lemah, yang selalu butuh pertolongan-Nya. Kapan lagi kita akan bersimpuh di hadapan-Nya, menangis penuh penyesalan, memohon ampunan-Nya? Kapan lagi kita akan membuang jauh-jauh segala atribut dunia yang membelenggu hati kita dari cinta Ilahi? Marilah kita jadikan Idul Adha ini bukan sekadar hari raya, tapi hari penyerahan diri yang total kepada Allah. Jadikan pengorbanan ini sebagai awal dari pelepasan diri dari belenggu nafsu, menuju kebebasan jiwa yang sejati di bawah naungan rahmat-Nya. بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Bagikan artikel ini

Artikel Lainnya

Lihat semua →